Tags

, , ,

Musim liburan telah tiba! (tepatnya sih udah mau berakhir :-P ). Saya bersama beberapa teman UKM berencana mengunjungi Ujung Genteng pada libur semester ganjil ini. Beranggotakan 16 orang, kita menyewa 2 mobil xenia yang sama-sama diisi 8 orang.

Sebelum hari-H sempat teteleponan sama mama, dan mama menyarankan kalau yang ikut banyak coba sewa minibus aja sama supirnya, supaya yang nyupir ga terlalu capek. Tapi untung kita ga jadi nyewa minibus. Kenapa? Karena ternyata jalan-jalan di ujung genteng ini kecil-kecil dan banyak tanah yang jeblos alias lembek.

Terlepas dari jalan yang jeblos, lembek dan becek saya pribadi merasa puas sekali ikutan jalan-jalan ke Ujung Genteng ini :D . Dengan biaya ga sampai Rp.200.000/orang (ga termasuk makan) kita dapat menikmati pemandangan dan pastinya pengalaman liburan yang oke punya.

Jadi 200ribu-nya dipake buat apa?

Yah, standar sih. Patungan sewa 2 mobil (xenia) dan penginapan sehari semalam di Pondok Hexa, Ujung Genteng.

Penginapan yang kami sewa berharga Rp.500.000/malam dengan fasilitas 2 kamar tidur+AC, 2 kamar mandi, dapur, ruang TV dan TV kabel (don’t expect too much, the signal is very bad), ruang makan, kulkas. Oh ya, check outnya paling lambat jam 1 siang.

Ketika sampai Ujung Genteng dan setelah membooking kamar yang kita lakukan selanjutnya adalah mencari makan. Kebetulan saya (dan Ice) sih sudah makan ketika mobil berhenti di suatu daerah bernama Surade. Selagi mereka menunaikan ibadah Shalat, saya dan Ice makan di depan mesjid di sebuah warteg yang bernama ‘surade’ juga. Sayang sekali banyak menu yang sudah habis begitupun nasinya yang hanya cukup untuk jatah 2 orang (porsi supir truk :P ). Jadi begitu saya dan Ice ngambil nasi sebenarnya nasinya sih masih ada sisa…

Lanjut masalah mencari makan, dari penginapan kita melucur ke restoran bernama “Anugrah Alam”. Bukan karena rekomendasi sih, tapi lebih tepatnya karena restoran ini diantara yang kita lewati tadi tampak cukup besar dan pewe :D

Karena udah makan, saya hanya memesan kelapa muda seharga Rp.10ribu. Sementara yang lain sibuk memilih menu. Menu disini kebanyakan menu paketan seafood gitu. Jadi harganya up to 50ribu dan porsinya kita ga kebayang seberapa banyak. Dan berhubung mayoritas adalah anak kosan yang ga mau rugi dan buat makan ga mau gambling, jadilah mereka pesennya nasi goreng.

Bahkan untuk makan malam, dengan mencoba restoran lain tentunya, anak-anak pun masih memilih menu nasi goreng karena memikirkan nasib makan siang keesokan harinya :|

Jadi, karena ini adalah perjalanan ke Ujung Genteng pertama kami semua, saya rasa ada baiknya membawa bekal makanan sendiri (lagian ada kulkas dan dapur juga sih), jadi bisa deh makan seafood paketan itu sekali. Soalnya alasan ga milih seafood paketan itu kan karena musti mikirin makan malem, makan esok hari dan juga cemal-cemil lainnya.

Setelah makan siang, hari telah sore… *halah

Sesuai anjuran senior di UKM, kita menuju tempat penangkaran penyu. Yup! Dianjurkan datang ke tempat ini sore hari karena di sore harilah mereka melepas anak-anak penyu ke laut :D

Anak penyunya ada banyak dan unyu sekali XD

Sebelum melepas penyu ada peraturan yang ditetapkan oleh petugas penangkaran, yaitu:

Saat melepaskan penyu, kita tidak boleh bergerak (berpindah) dari tempat kita berdiri supaya anak penyu tidak terinjak. Jika menginjak satu anak penyu maka konsekuensinya adalah menjadi sukarelawan di tempat tersebut selama setahun, dan berlaku kelipatan.

Selain itu kita juga mendapat informasi dari petugas disana kalau-kalau mau melihat Mama Penyu bertelur. Biasanya mama penyu bertelur malam-malam, antara jam 9 malam sampai jam 3 pagi dengan waktu yang tidak bisa ditentukan (terserah mama penyunya dong :P ). Tapi kita ga kesana gara-gara nomor telepon petugasnya ilang dan anak-anak udah pada tepar juga…

Keesokan paginya, kita sarapan pake mie goreng buat sendiri. Dan berniat buat basah-basahan. Melalu diskusi yang terjadi saat makan malam (dengan menu sebagian besar adalah lagi-lagi nasi goreng) kita sepakat buat langsung basah-basahan di Amanda Ratu. Sekadar informasi bahwa Amanda Ratu itu adalah “Tanah Lot” nya Ujung Genteng, tapi ga ada pura-nya.

Sampai ke Amanda Ratu, jreng-jreeng, ga ada pantainyaaa!!!

Ternyata kita dapat menikmati keindahan Amanda Ratu tersebut dari semacam tebing terjal yang memisahkan kita dengan Amanda Ratu.

Kecewa karna ga bisa basah-basahan, anak-anak langsung minta cabut ke pantai yang bisa basah-basahan, lalu kita pun capcus ke pantai ujung genteng.

Sesampainya di Pantai Ujung Genteng mengingatkan saya pada Muaro di Padang, Sumatra Barat. Banyak sekali kapal-kapal nelayan. Jadi bingung juga mau main air dibagian mananya :? . Namun setelah bertanya, kita diberi petunjuk kalau pantai ujung genteng yang biasa dikunjungi ada di balik portal (yang masuk dan parkirnya harus bayar). Tadinya karena anak-anak bilang parkirnya di luar aja biar ga usah bayar parkir, namun setelah dipikir-pikir mengingat keamanan mobil dlsb jadinya kita putuskan si mobils ikut masuk saja. Dan untunglah ikut masuk, ternyata jarak dari portal ke pantainya lumayan jauh juga :o

Di pantai Ujung Genteng ini, kamu bakal nemuin sumpah banyak banget gilak bintang lautnya. :o

Tapi bukan bintang laut kayak patrick gitu…*foto terlampir*

Jarak dari bagian kering ke tempat yang ada ombaknya juga ‘jauh’, musti melintasi bagian yang lembek dan dipenuhi bintang laut dan rumput laut(?) dan juga terkadang karang-karang…hhfft, bingung juga ngedeskripsiinnya :?

Biarpun pantai inilah yang disebut ‘pantai ujung genteng’, pantai favorit kami adalah pantai pangumbahan, tempat penyu kemarin. Pasir putihnya lembuut banget, dan Alhamdulillah ga banyak sampah juga :D
Akhirnya, kita memutuskan untuk bergerak ke arah pantai pangumbahan…

pantai pangumbahan (penangkaran penyu)

Lewat dari pantai pangumbahan, kita lurus terus sampai akhirnya nyampe ke jalan buntu berpenampakan rawa-rawa. Wew…

Untung ada bapak-bapak menghampiri menanyakan maksud dan tujuan kita, dan arif mewakili menjelaskan kepada bapak itu…Kata bapak itu adalah benar bahwa pantai yang kita tuju ada di sini..

HAH? TAPI INI KAN RAWA-RAWA….EAAAA *pikirku dalam hati*

Oh, ternyata maksud bapak itu parkirnya disini, untuk ke pantainya harus ditempuh dengan berjalan kaki lagi (atau sepeda dan sepeda motor). Celingak-celinguk dari ‘tempat parkir’ sebenarnya ga ada aura-aura pantai gitu sih…akhirnya dikirim beberapa utusan buat ngikutin bapak itu ke pantainya.

Utusannya ga balik-balik…

Akhirnya kita pun menyusul, menyusuri semak dan rawa…dan…JRENG-JRENG!!

Subhanallah indah bangeett!! Muara sungai yang tenang ketemu laut dan pantai ‘padang pasir’ :o

menyusuri semak dan rawa

Setelah puas bermain air dan foto-foto, kita pun kembali ke penginapan buat siap-siap check out dan kembali ke Bandung yang memakan waktu kira-kira 6-7jam perjalanan :-D