Tags
“If the people prosper, how can the king not prosper with them?
And if the people do not prosper, how may the king prosper without them?”
King Sejong, 4th Ruler of Choson Korea
atau dalam terjemahan bebas ke Bahasa Indonesia:
“Jika rakyat sejahtera, bagaimana raja tidak sejahtera pula? Dan apabila rakyat tidak sejahtera, bagaimana mungkin raja sejahtera tanpa mereka?”
Dari kutipan Raja Sejong tersebut dapat terlihat betapa cintanya raja tersebut terhadap rakyatnya, dan postingan kali ini akan membahas mengenai beliau
Hh, agak kaget juga liat postingan sebelumnya yang tertanggal 22 Januari..berarti udah 2 bulan saya ga ngeblog. Dan kali ini pun ngeblog, masih ga jauh-jauh soal yang berhubungan dengan kuliah sih. Jadi kuliah kali ini saya berencana membuat game yang menggunakan huruf-huruf Hangul (huruf Korea). Namun, dalam prosesnya saya membaca-baca pula literatur soal Raja Sejong yang luar biasa ini dan rasanya ga salah kalau dibagi-bagi buat pembaca blog saya.
Jadi, siapa itu Raja Sejong?
sumber gambar: wikipedia.org
Raja Sejong atau Sejong Yang Agung (Sejong Dae Wang) -7 Mei 1397 – 18 Mei 1450- adalah raja ke-4 pada Dinasti Choson. Beliau dilahirkan di distrik Chunsu tepatnya di ibukota negara yaitu Hanyang (sekarang Seoul). Ayahnya adalah Raja Taejong dan ibunya adalah Ratu Wonkyong. Saat masih menjadi pangeran gelarnya adalah pangeran Chungnyeong.
Sejak kecil, Raja Sejong suka sekali membaca. Jika ia telah membaca buku, maka buku itu akan terus dibacanya berulang-ulang kali. Dan beberapa buku, seperti Chwajon (sebuah buku biografi yang ditulis oleh Tso Chu-Ming) dan Chosa (Puisi tentang ratapan/Ode of Lamentation yang ditulis oleh Kulwon) telah dibacanya sampai lebih dari dua ratus kali sampai dia memahaminya dengan hati (baca: luar kepala). Saking gemarnya membaca, Raja Taejong sang ayah mulai cemas atas kesehatan Sejong dan melarangnya membaca saat malam. Namun larangan ini dilanggar oleh Sejong kecil sehingga raja mengutus pelayan istana untuk mengambil semua buku-bukunya dan menyembunyikannya. Sejong kecil pun mencari-cari bacaan dan menemukan Kuso Sugan (Ou Su’s Letter) terselip dibelakang kasa. Dan dia pun membaca surat itu berkali-kali (saking ga ada kerjaannya atau saking ga ada bacaannya).
Setelah menjadi raja, nafsu belajarnya semakin menjadi-jadi. Beliau menghadiri Kyong-yon dan berdiskusi tentang ajaran Kong Hu Cu (Konfusius) Klasik dan tulisan-tulisan sejarah. Bahkan sebulan setelah Raja Sejong masuk Kyong-Yon, beliau mengutarakan keinginannya mempelajari Chachi Tonggam (Sejarah Kronologis Cina 403 SM-959M yang terdiri dari 249 volume). Namun sebelum mempelajari Chachi Tonggam tersebut, Raja Sejong meminta Kunsarok (Sebuah literatur tentang filosofi Konfusius yang terdiri dari 4 volume) karena Chachi Tonggam terlalu “berat” untuk saat itu.
Namun, ketika Raja Sejong mulai mempelajari Chachi Tonggam di tahun berikutnya, ketidaksiapan dari tenaga pengajar semakin terasa. Raja Sejong pun merasa perlu ada orang-orang yang menaruh perhatian sepenuhnya terhadap Kyong-yon (dimana saat itu tenaga-tenaga pengajar di Kyong-yon itu ibaratnya part-time gitulah) dan menjadi cikal bakal berdirinya Chiphyonjon atau ‘Jade Hall of Scholars’ atau Balai Kemanfaatan.
Berdirinya Balai Kemanfaatan
Atas permintaan Raja Sejong, Chiphyonjon atau Balai Kemanfaatan dibangun di dalam kawasan istana pada Maret 1420 sebagai pusat riset kerajaan. Balai Kemanfaatan ini dibangun pada tahun kedua Raja Sejong memerintah.
Pada awal terbentuknya, Balai Kemanfaatan dihuni oleh sepulu orang cendikiwan dan jumlahnya terus bertambah sampai 20 orang. Raja Sejong terus mendukung cendikiawan-cendikiawan penghuni Balai Kemanfaatan dan yakin bahwa mereka akan berperan penting bagi kemakmuran rakyat. Dan penghuni Balai ini pun mendapat hak-hak istimewa dari kerajaan. Mereka mendapat makanan dan minuman terbaik dari kerajaan, bebas wajib militer, dan diberi izin untuk keluar pada waktu-waktu tertentu untuk belajar di rumah atau di kuil-kuil Buddha di pegunungan.
Raja Sejong rajin mengunjungi Balai Kemanfaatan. Pada suatu hari ketika Raja sedang berjalan-jalan santai di malam hari, beliau melihat lampu (atau semacam lampion gitu lah) menyala dari Balai Kemanfaatan. Raja Sejong kemudian masuk dan melihat seorang pelajar bernama Sin Suk-Ju terus belajar, Raja Sejong kemudian kembali ke kamarnya dan memerintahkan pelayannya untuk memperhatikan gerak-gerik Sin Suk-Ju. Ternyata lampu di Balai Kemanfaatan tidak juga mati sampai tiba fajar sekalipun, akhirnya Raja Sejong masuk kembali ke Balai Kemanfaatan dan menyelimuti Sun Sik-Ju dengan kongryongpo (jubah kaisar yang terbuat dari sutra). Dan ketika bangun, Sun Sik-Ju langsung berlutut dan berlinang air mata melihat kebaikan Raja Sejong.
Raja Sejong selama pemerintahannya terjun dalam berbagai proyek dimana proyek-proyek tersebut diharapkan bermanfaat bagi masyarakatnya. Misalnya sistem perpajakan, Konsolidasi kode-kode legislatif (?) dan lain sebagainya. Terdapat sekitar 80 buku, ratusan pamflet dan laporan yang berhasil dikeluarkan Balai Kemanfaatan dalam masa Raja Sejong antara lain Nongsa Chiksol (A Plain Guide to Farming, 1429), Taejong Sillok (The Annals of King Taejong, 1431), Paldo Chiriji (The Geographical Descriptions of the Eight Provinces, 1432), Samgang Haengsildo (Illustrated Guide to Conduct and the Three Bonds, 1432), Hyangyak Chipsongbang (Great Collection of Native Korean Prescriptions, 1433), Chachi Tonggam Hunie (Notes on the History of China, 1436), Hunmin Chongum (The Proper Sounds to Instruct the People, 1446), Tongguk Chongum (Dictionary of Proper Korean Pronunciations, 1447) and Koryosa (The History of Koryo, 1450).
Hunmin Chongum: Kemunculan Hangul
“The spoken language of our country is different from that of China
and does not suit the Chinese characters. Therefore amongst
uneducated people there have been many who, having something that
they wish to put into words, have been unable to express their feelings
in writing. I am greatly distressed because of this, and so I have made
twenty eight new letters. Let everyone practice them at their ease, and
adapt them to their daily use.”
–King Sejong’s Preface to Hunmin Chongum

sumber gambar: unesco.org
Jadi, sebelum munculnya aksara Hangul, masyarakat Korea menggunakan aksara Cina yang mereka sebut Hanja. Hanja ini (sebagaimana yang kita ketahui huruf Cina atau kanji adalah huruf simbolis) hanya digunakan oleh orang-orang elit. Dalam Hanja/Kanji satu karakter mewakili satu makna, berbeda karakter berbeda pula maknanya. Bayangkan orang awam yang kurang pendidikan harus menghafal sebegitu banyak huruf kanji tersebut untuk bisa membaca ataupun menulis.
Dari kutipan Raja Sejong di atas, jika diterjemahkan ke Bahasa Indonesia artinya kira-kira begini: “Cara berbicara dan berbahasa kita berbeda dengan Cina dan itu tidak sesuai dengan karakter-karakter huruf Cina. Bagaimanapun juga, masyarakat yang kurang pendidikannya akan sulit mengekspresikan perasaan mereka melalui tulisan. Saya cukup pusing karena ini, dan kini saya telah membuat 28 huruf. Mari kita semua menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari”
Hunmin Chongum dibuat pada tahun 1443, 25 tahun setelah Raja Sejong naik tahta. Tiga tahun kemudian (1446) Hunmin Chongum dipublikasikan lengkap dengan manual atau penjelasannya. Kini Alfabet Korea dalam Hunmin Chongum terkenal dengan nama Hangul yang berarti ‘The Script of Han (Korea)’ atau ‘Great Script’. Dan kemudian setiap tanggal 9 Oktober, Korea merayakan Hari Hangul Nasional.
Ya, Raja Sejong dan beberapa orang dari Balai Kemanfaatan mencoba merumuskan huruf berdasarkan pendekatan fonologi (cara pengucapan). Hal ini akan mereduksi keharusan masyarakat untuk menghafal sekian ribu kanji alih-alih cukup menghafal 28 huruf dengan penulisan yang sederhana. Menurut Raja Sejong, apabila masyarakat telah bisa membaca suatu tulisan, akan lebih mudah baginya untuk menyampaikan pengumuman-pengumuman penting melalui tulisan (seperti pamflet gitu kayaknya) untuk dibaca dan dipahami oleh masyarakatnya. Begitupun bagi masyarakat, mereka lebih dapat mengekspresikan perasaannya melalui tulisan tanpa harus terbebani simbol-simbol hanja yang banyak dan rumit. Mereka dapat membagi informasi tulisan dan dimaknai sama dengan yang membaca. Konon katanya yang penting dalam berbahasa adalah adanya kesepakatan makna antar para pemakainya.
Pada awal kemunculannya, huruf hangul ini mendapat banyak pertentangan dari kaum cendikiawan yang terbiasa menggunakan aksara Cina, namun Raja Sejong tetap pada pendiriannya, “Kalau bukan saya, siapa yang akan peduli dengan kemampuan bahasa dan tulis-baca masyarakat kecil?” begitulah kira-kira ujarnya. Sebegitu sayangnya raja Sejong kepada rakyatnya sehingga dia terus berupaya untuk memberikan yang terbaik, dan menyamankan mereka. Karena beliau percaya bahwa rakyatnya adalah utusan Dewa yang harus dia layani sepenuh hati.
Semoga oh semoga, Indonesia juga punya pemimpin-pemimpin rakyat yang memang peduli pada rakyat. Amiin.
(via ‘King Sejong The Great: The Everlasting Light of Korea’)
