Tags
Disadur dari buku ‘Refleksi Seni Rupa Indonesia” yang merupakan kompilasi dari berbagai tulisan seniman maupun designer Indonesia. Gw rada tertarik dengan tulisan Bapak Asmudjo Jono Arianto dalam artikelnya yang berjudul ‘Dilema Pendidikan Kriya’. Ya, kriya, jurusan yang saya tempuh di Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB…
Bahasanya agak berat bagi gue..tapi, topiknya menarik jadi hajar aja dibaca
Kriya:Ketidakjelasan Ruang Lingkup
Banyak yang menyinonimkan kriya dengan kerajinan, padahal sebenarnya kata kerajinan tidak mencerminkan karya seni. Ada sesuatu yang lebih pada ‘Kriya’ sehingga kurang (maksudnya sih tidak) pas menyamakan kriya dengan kerajinan. Namun, ruang lingkup yang masuk batasan kriya memang belum jelas sepanjang yang saya tau..
Kriya berangkat dari tradisi, namun saat ini tradisi di Indonesia masih disebut kerajinan, seperti kerajinan batik, kerajinan topeng dsb. Padahal kriya lebih dari sekadar itu. Istilah kriya itu sendiri berasal dari bahasa Jawa yang mewakili hierarki atas (istana) ataupun kelompok elite/bangsawan. Tapi tampaknya konteks kriya dimasa lalu tersebut tidak lagi eksis. Kriya nyaris disamakan dengan kerajinan seperti halnya kriyawan dianggap sama dengan pengrajin. wew, padahal itu berbeda…
Kriyawan adalah juru rupa ataupun katakanlah seniman yang terutama dalam bidang benda pakai. Nah, karena berkutat pada benda pakai maka nilai ergonomis-nya sedikit banyak harus dipertimbangkan. Itulah kenapa kriya juga masuk kedalam wilayah desain, karena karyanya dituntut untuk bisa dimengerti orang. Tidak seperti seniĀ murniĀ dimana bisa saja hanya senimannya yang mengerti artinya…makanya saat ini lulusan kriya di ITB bergelar S.Ds. karena karyanya dituntut untuk bisa dimengerti ‘nilainya’ oleh masyarakat. Memang masalah titel untuk sarjana kriya sempat diperdebatkan..apakah S.Sn ataukan S.Ds…tapi kalau menurut saya, gelar ya gelar..yang penting seberapa banyak sih ilmu yang diperoleh saat mendapat gelar tersebut??
Sesungguhnya persoalan utama dari situasi craft di barat adalah kenyataan bahwa kategori craft harus mencakupi 2 kecenderunan yang saling bertentangan. Pertama, berbasiskan produksi, yang kedua adalah penciptaan karya bebas satuan.